Jakarta Butuh Pemimpin Baru

Oleh : Igor Dirgantara

DUA bulan jelang pemungutan suara, persaingan semakin seru dan ketat antara tiga pasangan calon (paslon) yang berkontestasi di Pilkada DKI 2017. Masing-masing paslon, yaitu Agus-Sylvi, Ahok-Djarot, dan Anies-Sandi berpeluang untuk menang dan sekaligus juga berpotensi kalah, atau tidak lolos masuk ke putaran kedua. Hal ini tercermin dari hasil survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga SPIN yang dilaksanakan pada tanggal 5 – 14 Desember 2016.

Ketika responden ditanya jika pemilihan dilakukan saat ini, Ahok-Djarot masih unggul (31%), disusul pasangan Anies – Sandi (27%), Agus-Sylvi (23%), dan yang belum menentukan pilihan sebesar 19%. Dukungan kepada tiga pasangan calon yang berkompetisi di Pilkada DKI 2017 Jakarta pun masih cair sampai saat ini, dan cenderung masih bisa berubah.

Meskipun tingkat akseptabilitas (favorability) terhadap Ahok cenderung menurun, namun publik DKI Jakarta tetap melihat Ahok sebagai figur yang paling memahami masalah di DKI Jakarta (73%), dibanding Anies (40%), atau Agus (33%). Sebaliknya, Anies lebih dilihat sebagai sosok yang lebih punya perhatian (caring) terhadap warga DKI Jakarta (57%), daripada Ahok (52%), bahkan Agus (47%). Anies juga lebih dianggap mewakili semua lapisan penduduk Jakarta (52%), ketimbang Ahok (41%), dan Agus (39%).

Publik DKI Jakarta mengharapkan pemimpin yang memiliki respek, integritas, mereprentasikan semua lapisan masyarakat Jakarta, sanggup menciptakan lapangan pekerjaan, dan punya kemampuan memajukan pendidikan bagi warganya.

Masih ada 30% yang percaya bahwa Ahok pantas untuk dipilih kembali sebagai Gubernur, sedangkan 55% menginginkan sosok Gubernur DKI yang baru. Berbeda dengan Ahok yang kontoversial di mata publik, Anies Baswedan yang paling punya potensi dan peluang untuk dipilih warga DKI Jakarta sebagai Gubernur DKI baru, sekalipun sangat rentan diterpa isu-isu negatif keagamaan. Agus Harymurti juga punya kesempatan yang sama layaknya Anies sekalipun minim pengalaman.

Etnisitas dan Agama

Etnis cina di Jakarta 90% memberi dukungan penuh kepada pasangan Ahok-Djarot, dibanding Anies-Sandi (4%), Agus-Sylvi (1%), dan yang belum menentukan pilihan (6%). Etnis Cina di DKI Jakarta sekitar 8 % dari total penduduk Jakarta.

Etnis Jawa sebesar 38% dari penduduk Jakarta, yang memilih Anies-Sandi (23%), Ahok-Djarot (22%), Agus-Sylvi (20%), dan 34 % belum tentukan pilihan.

Untuk etnis Betawi yang berjumlah 34% dari masyarakat DKI Jakarta, 29% nya pilih Anies-Sandi, Agus-Sylvi (27%), Ahok-Djarot (12%), dan yang belum tentukan pilihan (31%).

Sedangkan untuk etnis Sunda sebesar 14% dari penduduk Jakarta, Agus-Sylvi dipilih sebanyak 29%, sementara Anies-Sandi (21%), Ahok-Djarot (16%), dan ada 34% yang belum menentukan pilihan.

Di segmen agama, 9% umat Kristiani di Jakarta memilih pasangan Ahok-Djarot (94%), Agus-Sylvi (4%), Anies-Sandi nihil (0%), dan 2% belum tentukan pilihan.

Sekitar 48% masyarakat Jakarta mengetahui kasus Surat Al-Maidah yang menimpa Ahok dan permintaan maafnya kepada publik. Yang hanya tahu pengutipan surat Al-Maidah saja (23%), permintaan maaf Ahok (13%), dan yang sama sekali tidak tahu/dengar (6%). Dari kasus tersebut, sebanyak 27% mendukung ahok, 51% tidak mendukung. Dan sisanya tidak menjawab.

Survei dilakukan dengan responden 773, dengan teknik multistage random sampling. Margin of error 3,5% dan tingkat kepercayaan 95%. Wawancara dilakukan melalui tatap muka langsung dengan bantuan kuisioner. Uji kualitas dilakukan melalui spot check dengan mengambil 20 % dari total sample.

Igor Dirgantara, adalah Direktur SPIN (Survey and Polling Indonesia).