Connect with us

Kriminalitas

Terlilit Utang, Pemuda Tega Bunuh Temannya Sendiri

Published

on

Jakzone, Bekasi – Pembunuhan terhadap Deston Sidabutar di Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat, akhirnya terungkap oleh Resmob Polda Metro Jaya, yang dikomendani Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Aris Priyono. Pelaku pembunuhan merupakan sahabat Deston sendiri yaitu Komeng (32) ketika di SMA dibantu istrinya Desy Ratna. Pembunuhan terjadi, Rabu (8/2/2017) itu dilakukan pelaku setelah berkali-kali Deston “dicekoki” minuman hingga mabuk, dimana sebelumnya Deston ditawari Desy Ratna (25), oleh Komeng sebagai teman kencan, yang tidak diketahui Deston merupakan istri Komeng.

Dalam Rekontruksi 44 adegan yang dilakukan di dua lokasi kejadian, Senin (20/2/2017) pagi. Lokasi pertama di rumah kontrakan di Jalan Raya Sukatani Bekasi ada 15 adegan, dan lokasi kedua di pinggir irigasi di Desa Ciherang Bekasi.

Rekontruksi pertama diperagakan tak lama setelah Deston tiba di kontrakan Komeng, kemudian sekitar pukul 23.00 WIB Komeng membeli minuman miras jenis Vodka satu plastik menggunakan motor Deston. Sementara Desy yang berpura-pura sebagai teman kencan menemani Deston di rumah kontrakan, yang warga sebut kontrakan ghotik. Saat rekonstruksi baru dimulai di kontrakan mereka, Desy tampak sempat menangis. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun dan enggan menjawab pertanyaan wartawan.

Setelah minuman habis, dengan berboncengan bertiga, Komeng dan Desy kembali membeli minuman keras dan berlanjut menikmatinya di sebuah pinggiran irigasi dan pematang sawah yang jahu dari kontrakan, tempat pembunuhan dilakukan. “Isteri pelaku tidak ikut minum,” kata Aris Priyono di lokasi kontruksi pertama.

Di suasana malam gelap dan sepi di ujung desa itu mereka berjongkok bertiga sambil menikmati minuman, dan Desy semapt memijit kaki Deston. Namun karena belum membuat Deston mabuk berat, Komeng sempat bolak-balik hingga dua kali membeli minuman.

Pada rekontruksi ke 40, diperagakan saat Deston sudah cukup mabuk, Komeng menusuknya di dada Deston dua kali dengan pisau yang telah dipersipakan sebelumnya. Karena belum yakin Deston tewas, Komeng memukulinya dengan balok kayu di bagian belakang kepala korban. Sebelum membuang jenazahnya ke parit sawah. Komeng dan Desy mengambil uang, ponsel, dan membawa pulang motor Deston. Mereka sempat menggadai ponsel Deston, adapun motornya, digunakan Komeng untuk bekerja.

Dalam pengakuannya Komeng dan Desi merampas dengan membunuh untuk membayar utang. Keduanya dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 338 tentang Pembunuhan, dan Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan. Mereka terancam hukuman pidana mati atau penjara seumur hidup.

“Rekontruksi 44 adegan ini dilakukan untuk penyesuaian dengan BAP. Pelaku bersama istrinya melakukan karena terlilit hutang dan direncanakan. Korban adalah teman pelaku sewaktu di SMA yang sudah lama lost kontak. Saat bertemu lagi itulah terniat oleh komeng untuk melakukan perampasan barang milik Deston,” jelas Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Aris Priyono usai rekontruksi lokasi kedua, didampingi Kanit V Kanit V Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Handik Zusen. Ini pembunuhan berencana karena sudah ada niat. Ya, makanya kami kenakan Pasal 340 KUHP,” imbuh Aris Priyono. (igo)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kriminalitas

Investasi Bodong KSP Pandawa Mandiri Group Terus Didalami Polda Metro Jaya

Published

on

Jakzone.com, Jakarta – Polda Metro Jaya (PMJ) berhasil melakukan pengembangan kasus investasi bodong Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group. Sebelumnya diberitakan, ratusan korban investasi bodong mendesak polisi segera menangkap pemilik Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group, Salman Nuryanto. Sebab, ratusan orang sudah ditipu hingga miliaran rupiah.

Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan mengatakan ada tiga orang lainnya yang juga ditetapkan sebagai tersangka selain Salman Nuryanto, bos Pandawa Group. Kasus ini ditangani Subdit Fiskal, Moneter, dan Devisa (Fismondev) Ditreskrimsus.

“Tersangka pertama Nuryanto, kedua pembuat administrasi Subandi dan Taryo, kemudian Madamin adalah leader besar. Nah, ini (Madamin) leader besar pencari investor yang ada. Nuryanto selaku pimpinan, menurut Iriawan, menggunakan Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Mandiri Group sebagai kedok untuk melakukan penipuan tersebut. Tersangka melalui beberapa leadernya menghimpun dana dari para investor,” kata Iriawan kepada wartawan di Main Hall Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (20/2/2017).

Kapolda menjelaskan investor dia berikan profit 10 persen. Kalau investor ada uang Rp 100 juta, maka dipotong 10 persen dan dikembalikan kepada investor seolah-olah itu bunganya. Sementara itu leader mendapat keuntungan 10 persen dari dana yang diinvestasikan para nasabah sebagai pencari investor. dan sisanya Rp 90 juta dikurangi 10 persen, ada Rp 81 juta ada ditangan Nuryanto.

Nuryanto kemudian memutar uang Rp 81 juta tersebut dari para nasabah tersebut untuk dipinjamkan kepada para pedagang usaha kecil menengah (UKM) di kawasan Jabodetabek dengan bunga 20 persen dari nilai uang yang dipinjamkan KSP Pandawa Mandiri Group.

“Dalam perjalanannya ternyata banyak kemacetan. Di situlah timbul permasalahan yang ada. Hingga ada laporan penipuan oleh nasabahnya. Dalam kasus ini ada sekitar 750 nasabah yang dirugikan , Dengan nilai kerugian mencapai 3 triliun lebih,” ujar Irawan.

Juga turut disita aset Pandawa Mandiri Group berupa puluhan komputer, uang tunai, dokumen perjanjian, buku rekening serta benda bergerak dan yang tidak bergerak. Keempat tersangka dijerat dengan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan, Pasal 378 KUHP tentang Penipuan, dan/atau Pasal 46 UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan juncto Pasal 3, 4, 5 dan 6 UU RI No 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU),” imbuhnya.

Perlu diketahui Pandawa Group merupakan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) melakukan modus menarik dana dari nasabah. Para nasabah dijanjikan keuntungan hingga 10 persen per bulan dari setiap investasi yang ditanamkan, dan imbalan bonus tambahan.

Semula, koperasi yang berdiri sejak 2013 itu berjalan lancar. Namun kemudian mengalami kemacetan pada akhir Desember 2016 lalu. Haryanto sendiri diketahui telah menghilang semenjak sejumlah nasabah menagih keuntungan tersebut.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan seluruh kegiatan pengumpulan dana yang dilakukan Pandawa Group, Kota Depok karena berpotensi merugikan masyarakat dan melanggar Undang – Undang tentang Perbankan. Pandawa ‎telah menghimpun dana masyarakat dengan tawaran bunga investasi tinggi.

Sebelumnya, penyidik Kepolisian dari Polda Metro Jaya dan Polres Kota Depok menggeledah Kantor Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Mandiri Group di Jalan Meruyung, Limo, Kota Depok, Senin, 13 Februari 2017. Penggeledahan dilakukan guna mencari bukti – bukti dugaan penipuan berkedok dana investasi Pandawa Group.

Seperti diberitakan, kasus dugaan penipuan investasi ini pertama kali dilaporkan oleh nasabah di Polres Depok, Jawa Barat di bulan April 2016. Namun, kasus ini kemudian diambil alih oleh Polda Metro Jaya lantaran banyaknya korban yang tertipu tak hanya dari kawasan Depok. “Kita kerjasama dengan Polres Depok untuk dijadikan satu di Polda. Mengingat semua korban dari mana-mana, ada yang di Depok, ada yang di luar Depok,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Argo.

Syarifudin selaku pengacara salah satu korban, yakni Apriza Hujjatul Subhan pernah mengungkapkan selain masyarakat biasa, korbannya juga ada dari unsur anggota kepolisian, juga dari unsur anggota TNI. “Sehingga perlu perhatian serius,” katanya kepada wartawan usai melapor di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (3/2/2017) lalu. (igo)

Continue Reading

Kriminalitas

Pengedar Obat-obatan Keras Ilegal Diungkap Dirserse Krimsus Polda Metro Jaya

Published

on

Jakzone.com, Jakarta – Direktorat Reserse Kriminal khusus Polda Metro Jaya berhasil mengungkap pelaku yang mengedarkan obat-obatan palsu yang mengandung zat berbahaya. Pelaku melakukan tindakan pidana dibidang kesehatan, perlindungan konsumen dan pencucian uang. Sebabnya penjualan obat keras yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan dan mutu, juga tidak memiliki izin edar, bahkan tidak memiliki kehalian dan kewenangan untuk melakukan praktek kefarmasian.

Direktur Serse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Wahyu Adiningrat mengatakan, pelaku M (33) dan MS (50) adalah dua orang yang berbeda. Keduanya melakukan penjualan obat yang mengandung zat berbahaya ini secara bebas kepada anak-anak dibawah umur, antara lain pelajar dan pengamen tanpa menggunakan resep dokter, dan tidak adanya pengawasan. “ obat obatan tersebut dijual dalam bentuk kemasan kecil dengan harga variasi antara 10 ribu hingga 12 ribu rupiah yang berisi 7 butir,”ujarnya di Polda Metro Jaya, Kamis (12/1/2017).

Dijelaskannya pengungkapan tindak pidana ini bermula petugas mendapat informasi di Pasar Pramuka masih ada pedagang yang menjual obat keras lingkaran merah kepada masyarakat umum tanpa menggunakan resep dokter. Maka berdasarkan informasi tersebut petugas melakukan penyelidikan, ditemukan ada sales secara diam-diam menawarkan obat-obatan kepada beberapa pedagang obat di luar Pasar Pramuka, diantaranya Apotek Vico Tama, Apotek Salembaran Jaya dan Toko Obat Kalideres. Kemudian dilakukan pengecekan di ketiga tempat tersebut diketahui menjual obat lingkaran merah, yaitu Hexymer, Tramadol HCL, Tramadol Kapsul dan Dextro metorpham.

Dari pengembangan selanjutnya ditemukan ribuan butir obat-obat lingkaran merah di 5 TKP, yaitu di Apotek Vico Tama Banten, rumah tinggal milik tersangka M di Tangerang, Apotek Salembaran Jaya di Kosambi, Toko Obat Kalideres Jakarta Barat dan di rumah tinggal tersangka MS Jakarta Barat.

Namun Wahyu Adiningrat belum bisa menyatakan obat-obatan tersebut palsu atau asli. Karena menurutnya harus dilakukan pemeriksaan labolatorium terlebih dahulu. “Bersama BPOM akan melakukan pemeriksaan di labolatorium,”ujarnya, seraya menyebutkan obat-obat yang dijual kesemuanya berupa obat penenang yang sangat berbahaya jika dikosumsi tanpa resep dokter.

Dikatakan perbuatan pelaku dapat dikenakan ancaman pidana Pasal 196 KUHP dipidana paling lama 10 tahun, dan dikenakan denda paling banyak 1 milyar. Ancaman pidana Pasal 197 KUHP dengan pidana paling lama 15 tahun, dan denda paling banyak 1,5 milyar. Ancaman pidana Pasal 198 KUHP dengan denda 100 juta. Juga dikenakan undang undang darurat dengan hukuman mati atau hukuman penjara setinggi tingginya 20 tahun. (igo)

Continue Reading

Kriminalitas

Perampok Spesialis SPBU Dibekuk Resmob PMJ Satu Pelaku Ditembak Mati

Published

on

Jakzone.com, Bekasi – Aksi Komplotan perampok yang menghadang dan membacok seorang satuan pengaman (satpam) SPBU bernama Agus Nur Jaman, saat akan menyetorkan uang di Jalan Raya Hankam depan Rental PS, Jatiwarna, Bekasi, Selasa (3/1/2017).

Aksi yang dilakukan komplotan perampok ini saat korban hendak menyetorkan uang SPBU ke Bank BCA Pondok Gede, namun di tengah perjalanan korban dihadang dan ditendang lalu dibacok pakai senjata tajam. Kemudian korban dibacok menggunakan golok dan celurit. Setelah membacok korban dibagian kepala dan dengkul sebelah kiri, pelaku menggondol uang yang dibawa korban senilai Rp 300 juta.

Kasusnya yang ditangani Polsek Pondok Gede diback up Polda Metro Jaya, akhirnya komplotan pelaku berjumlah 5 orang berhasil diungkap. Kanit IV Resmob Polda Metro Jaya, Kompol Teuku Arsya Khadafi mengatakan pihaknya akhirnya berhasil mengungkap komplotan pelaku perampokan SPBU tersebut, yaitu Syaiful Arif alias Bulku, Somad Hidayat, Saini, Ismail dan Roy alias Kocor.

Satu dari tiga perampok tewas ditembak polisi, Senin (9/1/2017). Pelaku yang ditembak mati polisi bernama Bulku. Dia ditembak di bagian dada karena melakukan perlawanan ketika diminta menunjukkan lokasi barang bukti senjata tajam dan persembunyian rekannya di daerah Kota Bekasi. Dia pun tewas kehabisan darah dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

Sementara dua pelaku lainnya Somad dan Saini ditangkap tanpa perlawanan di Kota Bekasi. Identitas mereka terungkap, saat penyidik memeriksa rekaman kamera CCTV di sekitar ruko yang ada di lokasi. Saini dan pelaku lainnya yang masih buron bertugas mengawasi dan mensurvei lokasi kejadian sebelum melakukan perampokan,” jelas Kompol Teuku Arsya Khadafi di Polda Metro Jaya, Kamis (12/1/2017).

Berdasarkan data yang diperoleh, sambung Arsya, ketiga tersangka saling berbagi peran saat hendak beraksi. Bulku bertugas membacok korban menggunakan golok apabila melakukan perlawanan. Sedangkan Somad bertugas membawa sepeda motor yang ditumpangi Bulku. “Sedangkan Saini dan pelaku lainnya yang masih buron bertugas mengawasi dan mensurvei lokasi kejadian sebelum melakukan perampokan,” katanya.

Komplotan ini sudah sebelumnya pernah melakukan perampokan di Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara dan Jatiasih Bekasi, tambahnya. Terungkapnya komplotan ini dari rekaman CCTV, petugas mendapati tiga pelaku sedang merampok korban dengan senjata tajam. Berbekal rekaman itu, penyidik berhasil mengidentifikasi salah satu dari kawanan penjahat itu. Rupanya Somad dan rekan-rekan sudah beberapa kali melakukan perampokan di daerah Ciracas, Jakarta Timur, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

Dari tangan pelaku di dapat barang bukti sebilah golok, helm, handphone, buku tabungan dan kartu atm, sepeda motor yang digunakan pelaku, seuntai kalung emas milik Bulku yang dibeli dari hasil kejahatan serta sisa uang tunai hasil rampokan yang sebagian besar telah dipakai untuk hura hura oleh para pelaku.

Akibat perbuatannya, para tersangka yang ditangkap akan dijerat Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang bakal dihukum penjara di atas lima tahun.

Kanit IV Resmob Polda Metro Jaya, Kompol Teuku Arsya Khadafi mengungkapkan, seringnya terjadi perampokan SPBU, karena pihak SPBU melakukan pengiriman uang secara rutin dengan orang yang sama dalam penyetoran uang. Ini mempermudah komplotan perampok mengetahui korbannya. “Pihak SPBU tidak menggunakan pengamanan dari kepolisian atau jasa pengamanan lainnya. Ini memang dengan cost yang murah, tapi mengandung resiko yang besar,”katanya.

Arsya Khadafi mengingatkan agar pihak SPBU melakukan pengamanan saat penyetoran uang ke bank. Dan dia berharap dengan tertangkapnya komplotan perampok spesialis SPBU, kedepannya semua pihak SPBU dapat lebih waspada dan melakukan pengamanan maksimal. (igo)

Continue Reading

Trending